DAP calls for the appointment of an Orang Asli as Deputy Minister to be responsible for the reform of JHEOA to lift up the Orang Asli to the level of other communities

during the debate
on the Ministry of Rural and Regional Development, 2005 Budget
by Lim Kit Siang

(Dewan Rakyat, Thursday): It is outrageous and scandalous that close to half a century  of Merdeka, the Orang Aslis in the country remain the poorest and most marginalized in all aspects, whether education, health, economic or political status.

In May this year, after his Cabinet appointment, the Minister for Rural and Regional Development, Datuk Aziz Shamsuddin announced that a comprehensive plan of action would be unveiled to eradicate the poverty and  uplift the Orang Asli, declaring that he was “committed to bringing them up to the same level as the other communities”.

Where is this comprehensive plan to give a new deal to the Orang Asli half-a-century after independent nationhood to bring the Orang Asli into the mainstream of national development?

The question must be asked as to who are the real beneficiaries of a Jabatan Hal Ehwal Orang Asli (JHEOA) in the past half-century, whether the JHEOA bureaucrats or the ordinary Orang Asli people?  If it is the latter, then why is it that up to now, no Orang Asli had ever been appointed not only to the post of Director-General but also as State Directors of JHEOA?

The government must demonstrate its real commitment and political will to uplift the Orang Asli community from being the poorest, most backward and marginalized community in the country, starting by ensuring that at least half of the State Directors of JHEOA are from the Orang Asli when Malaysia celebrates the half-century anniversary of our independent nationhood.

DAP calls on the Prime Minister Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi to appoint an Orang Asli as a Deputy Minister in this Ministry to be responsible for the reform of JHEOA to lift up the Orang Asli to the level of other communities, to ensure that there is greater Orang Asli control and involvement in the programmes and future of JHEOA.

In view of the abysmal progress achieved by JHEOA and the Ministry to uplift the Orang Asli community in the past half-century, the government should prepare a White Paper for presentation in Parliament to pinpoint  the failures and  outline the  ambitious  plans to chart the educational, socio-economic and political advancement of  the Orang Asli in the new millennium. 

Seven years ago, a National Conference on the Indigeous People in Malaysia was held in Tapah which passed 18 resolutions to bring the Orang Asli and the indigenous people of Malaysia into the mainstream of national development and not be the victims, but these resolutions had been ignored by the Ministry.

The Ministry should revisit these 18 resolutions adopted by this Conference, which was organized among others by Persatuan Orang-Orang Asli Semenanjung Malaysia (POASM), in particular the following:

  • Orang Asal/Asli hendaklah diberi hak sepenuhnya untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
  • Seluruh tanah adat orang Asal/Asli dan kawasan-kawasan yang sedang didiami oleh orang Asal/Asli hendaklah diiktiraf dan diwartakan sebagai tanah rezab orang Asal/Asli. Pendudukan orang Asal/Asli bolehlah ditentukan dengan pokok tanaman, tanda penerokaan awal, nama tempat, dusun, kebun, tempat kubur, tempat keramat, dokumen-dokumen lama dan sebagainya.
  • Hakmilik tanah untuk selama-lamanya hendaklah diberikan kepada individu-individu orang Asal/Asli yang memohon untuk tanah samada dalam tanah rezab orang Asal/Asli atau di luar tanah rezab orang Asal/Asli seperti yang telah diberikan kepada warganegara kaum yang lain di negara ini.
  • Memandangkan taraf socio-ekonomi Orang Asal/Asli sebagai kaum yang termiskin di negara ini, bayaran premium atau lain-lain bayaran yang dikenakan untuk pemberian hakmilik tanah tersebut hendaklah sekadar satu jumlah yang minima (a token sum) yang mampu dibayar oleh orang Asal/Asli.
  • Jika tanah rezab yang diduduki oleh orang Asal/Asli atau tanah lain kepunyaan Orang Asal/Asli terpaksa diambil untuk kepentingan negara atau kepentingan awam, pampasan nilai pasaran hendaklah diberikan dan ia perlulah mengambilkira potensi hartanah tersebut.
  • Jika mana-mana tanah rezab orang Asal/Asli dimansuhkan kedudukannya sebagai tanah rezab Orang Asal/Asli, tanah baru yang sama luas dan nilai hendaklah diwartakan sebagai rezab orang Asal/Asli.
  • Jabatan Orang Asli hendaklah diterajui dan dikendalikan oleh Orang Asli sendiri. Peralihan untuk mengambilalih Jabatan Orang Asli oleh orang-orang Asli sendiri hendaklah dibuat secara berperingkat-peringkat. Pengambilan alih sepenuhnya Jabatan Orang Asli oleh Orang Asli sendiri hendaklah siap dalam tempoh masa 10 tahun.
  • Setiap Majlis Daerah yang mempunyai 2,000 orang atau lebih hendaklah mempunyai seorang wakil Orang Asal/Asli.
  • Orang Asal/Asli hendaklah diwakili di Dewan Undangan Negeri (melainkan Negeri tersebut tidak mempunyai jumlah terlalu kecil orang Asal/Asli), Parlimen dan Dewan Negara.
  • Satu Suruhanjaya ditubuhkan untuk mengkaji dan menentukan keperluan dan kehendak orang Asal/Asli dan Kerajaan Persekutuan hendaklah mengambil langkah-langkah yang perlu untuk memenuhi keperluan dan kehendak orang Asal/Asli.


* Lim Kit Siang, Parliamentary Opposition Leader, MP for Ipoh Timur & DAP Central Policy and Strategic Planning Commission Chairman